Foto saya
Subang, Jawa Barat, Indonesia
dreamer, learner, worker, story teller

Sabtu, 18 Januari 2020

Self Driving #1

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hai readers!

Kalian pernah ga sih ngerasa kalau kalian itu hidup bagai parasit? Ga berguna buat orang lain? Kalau pernah, berarti ada yang bermasalah sama mental kalian.

Hm menarik nih. Kali ini, aku mau membahas salah satu poin penting dari buku "Self Driving" karya Rhenald Kasali. Buku yang lumayan membangun mindset tentang perubahan mentalitas kita.

Here we go.

Seseorang yang hidup di dunia ini akan menentukan pilihan, mau menjadi orang yang seperti apakah kita? Ini relate sama persoalan habits kemarin. Habits yang salah menghasilkan mental yang buruk juga.

Ada dua tipe orang yang bisa kita pilih:
Driver or passenger?
Apa bedanya?
Coba kalian bayangkan aja antara supir taxi dan penumpangnya.
Driver adalah orang yang duduk di depan, mengambil keputusan, berani ambil resiko, tidak boleh mengantuk, tidak boleh capek, tidak boleh lengah sedikit.
Berbeda halnya dengan passenger yang duduk di belakang, bebas mau ngapain, boleh tidur boleh makan, santai, ikut kemana geraknya driver.

Nah kira-kira mana yang lebih baik?
Jelas driver!
Dia tau arah yang jelas, berani mengorbankan sesuatu demi tujuan yang ingin dicapai. Inilah filosofi yang sebenarnya dalam hidup.

Oke, minggu depan kita bahas apa sih ciri-ciri lain yang membedakan driver dan passenger? Dan kalian masuk tipe yang mana ya?

Stay on my blog. See u!
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

#todaytenpageschallenge
#bookreview

Sabtu, 11 Januari 2020

Habits is Everything #2

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hi readers!

Setelah kemarin aku buat review pertama dari bukunya Ust. Felix soal habits, kali ini aku mau share lagi ke kalian tentang insight apa aja sih yang aku dapet dari buku ini. So, this is the last review of How to Master Your Habits ; by Ust. Felix.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, habits bukanlah sesuatu yang instan dan bisa langsung terbentuk melainkan butuh proses dan pembiasaan yang memakan waktu lama. Pembentukan habits analoginya sama dengan membentuk jalan raya. Jalan adalah akses untuk memudahkan transportasi berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Jalan dibentuk dalam waktu yang tidak sebentar mulai dari tanah lalu diberi batu, dibeton, diaspal sampai diperlebar. Semakin bagus jalan maka akses semakin lancar. Begitu juga habits. Habits adalah akses untuk menyampaikan informasi dari rangsangan ke bagian otak. Kok sama seperti syaraf? Yap benar sekali. Habits melatih syaraf-syaraf kita. Itulah mengapa habits harus terus dilatih.

"Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan terus menerus." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut para pakar, manusia memiliki 3 milestone atau cek poin yang dapat dijadikan panduan dalam membentuk habits:
  1. Milestone pertama membutuhkan 30 hari (kondisi habits baru masih rapuh dan keinginan untuk kembali pada habits lama sangat besar)
  2. Milestone kedua membutuhkan 3x30 hari (keinginan untuk melanjutkan habits baru seimbang dengan keinginan untuk kembali pada habits lama)
  3. Milestone ketiga membutuhkan 10x30 hari atau setahun (kondisi habits baru sudah solid dan berjalan otomatis)
Saat ini sebagian besar orang selalu berpikir negatif pada keburukan yang dialami seperti mengeluh, mudah menyerah, dan menyalahkan takdir. Hal yang tidak mereka sadari adalah habits seperti itu yang justru membuat mereka semakin sulit. Orang selalu berpikir "andai aku jadi orang yang beruntung", padahal mereka tidak mengerti bahwa keberuntungan itu sendiri merupakan hasil dari habits.

Keberuntungan = persiapan (habits) x kesempatan (kuasaNya)

Kehidupan ini semakin lama semakin keras. Jika kita ingin melewati kerasnya dunia, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Jadilah 'The Outliers'. Orang yang berani berbeda, berdampak positif bagi dunia. Bagaimana caranya? bentuklah habitsnya dari sekarang! Orang-orang hebat pasti memiliki sikap mental berikut:
  1. Bertindak, aksi nyata
  2. Berani ambil resiko
  3. Bergerak dan terus bergerak
  4. Visioner, bukan sebatas dunia tetapi juga akhirat
  5. Tidak banyak alasan
  6. Tidak menyalahkan keadaan atas kesalahan pribadi
So, sikap mana yang sudah kita miliki? atau justru belum ada sama sekali? Jangan kecil hati, masih ada waktu selama kita punya tekad yang kuat untuk mengubah diri menjadi lebih positif.

I hope, this post can give a new insight for you.

See you later on @todaytenpageschallenge !
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Sabtu, 04 Januari 2020

Habits is Everything #1

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hai readers! Long time no see.

Kali ini aku lagi coba baca buku yang keren banget dari Ust. Felix Siauw nih.
Judulnya How to Master Your Habits and i'm excited buat share ke kalian review part 1 setelah kurang lebih baca 1/4 buku hehe.

So, everything inside this book is explain about habits.
Dari mulai what? why? who? when? where? and how? semuanya aku bahas disini secara singkat.

Let's start.

What?
Sederhananya, habits adalah suatu pikiran, perasaan, atau tindakan yang muncul karena adanya pengondisian dan pembiasaan baik secara sengaja maupun tidak. Habits itu bagai pisau bermata dua: boost yourself or get you down. Semua tergantung dari bagaimana kita bisa mengendalikan habits itu sendiri bukan sebaliknya.

Why?
Alasan habits bisa muncul itu karena dua hal. What is that?
Practice and Repetition.
Latihan dan Pengulangan.
Habits itu ada karena kalian melakukannya secara terus menerus, berulang-ulang sampai akhirnya tidak menyadari bahwa segala sesuatu sudah terjadi secara otomatis.

Who?
Siapa yang harus mengendalikan habits? Kita sendiri. Kalau mau jadi orang hebat, kita harus ikutin habitsnya orang-orang hebat. Dan inget, prosesnya ga bisa instan.
Mulai dari siapa mulainya? Sekali lagi, diri sendiri. Awalnya pasti susah tapi kadang keterpaksaan di awal juga berbuah manis di akhir.

When?
Secepatnya. Jangan menunggu waktu yang pas karena yang dibutuhkan untuk merubah habits adalah komitmen. Istiqomah. Niat dan tekad yang bulat. Kalian harus punya daya tarik dan daya dorong. Goals yang mau kalian capai sebagai daya tarik dan motivasi yang kuat sebagai daya dorong. Semakin lama memulai semakin lama waktu untuk kalian mencapai tujuan tersebut.

How?
Inget kuncinya latihan dan pengulangan.
Lakuin aja dulu dari sekarang.
Terus ulangi.
Dan ulangi.
Stepnya: learn, commit, practice, repetition, habits
Ini udah jadi siklus habits so semua pasti akan berputar disitu.
Inget lagi, komitmen.

Setelah kalian tau pentingnya habits, berikut step by step yang harus kalian lakukan sekarang:
1. Mulai menentukan habits apa yang ingin kalian bentuk. Bebas apa saja.
    Contohnya aku, sekarang sudah mulai membiasakan habits membaca.
2. Tentukan target dari habits yang sudah dipilih serinci mungkin.
    Aku menetapkan target untuk halaman per hari dan target buku per tahun yang akan dibaca.
3. Bentuk lingkungan yang mendukung habits kamu.
    Dalam mendukung habits ku buat baca, aku gabung di grup @todaytenpageschallenge dimana
    disana isinya adalah orang-orang yang punya motivasi yang sama untuk punya habits membaca
    buku. Jadi setiap hari selalu ada reminder untuk target-target yang sudah kita buat. Kamu juga bisa
    kok minta bantuan orang terdekatmu atau pun bikin reminder di hp atau dimana aja yang bisa
    terlihat sama kamu.

Intinya, lakukan semua dengan konsisten dan berkomitmen penuh. Inget, seseorang mungkin bisa terlihat menjadi orang hebat diluar tapi dia tidak akan pernah bisa membohongi habitsnya sendiri.

See you on the next review!
Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Minggu, 19 Oktober 2014

KEISTIMEWAAN- KEISTIMEWAAN AL-QUR’AN [1]

Oleh
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu


Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasul kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dimulai dengan surat al-Fatihan dan ditutup dengan surat an-Nas, bernilai ibadah bagi siapa yang membacanya, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan الــم ialah satu huruf, akan tetapi ا satu huruf, ل satu huruf dan م satu huruf. [HR. Bukhari].

Banyak hadits shahih yang menjelaskan tentang keutamaan membaca surat-surat dari al-Qur’an.

Berikut ini kami paparkan sebagian keistimewaan-keistimewaan al-Qur’an al-Karim: [2]

1. Tidak sah shalat seseorang kecuali dengan membaca sebagian ayat al-Qur’an (yaitu surat Al-Fatihah-Red) berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah". [HR. Bukhari-Muslim]

2. Al-Qur’an terpelihara dari tahrif (perubahan) dan tabdil (penggantian) sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". [al-Hijr:9]

Adapun kitab-kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil telah banyak dirubah oleh pemeluknya.

3. Al-Qur’an terjaga dari pertentangan/kontrakdiksi (apa yang ada di dalamnya) sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya". [an-Nisa’: 82]

4. Al-Qur’an mudah untuk dihafal berdasarkan firman Allah:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran". [al-Qamar: 32]

5. Al-Qur’an merupakan mu’jizat dan tidak seorangpun mampu untuk mendatangkan yang semisalnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menantang orang Arab (kafir Quraisy) untuk mendatangkan semisalnya, maka mereka menyerah (tidak mampu). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ

"Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya ... ". [Yunus: 38]

6. Al-Qur’an mendatangkan ketenangan dan rahmat bagi siapa saja yang membacanya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam suatu majlis kecuali turun pada mereka ketenangan dan diliputi oleh rahmat dan dikerumuni oleh malaikat dan Allah akan menyebutkan mereka di hadapan para malaikatnya". [HR. Muslim].

7. Al-Qur’an hanya untuk orang yang hidup bukan orang yang mati berdasarkan firman Allah:

لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا

"Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya)". [Yaasiin: 70]

Dan firman Allah:

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya". [an-Najm:39]

Imam Syafi’i mengeluarkan pendapat dari ayat ini bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak akan sampai kepada orang-orang yang mati. Karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit. Adapun bacaan seorang anak untuk kedua orang tuanya, maka pahalanya bisa sampai kepadanya, karena seorang anak merupakan hasil usaha orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah n .

8. Al-Qur’an sebagai penawar (obat) hati dari penyakit syirik, nifak dan yang lainnya. Di dalam al-Qur’an ada sebagian ayat-ayat dan surat-surat (yang berfungsi) untuk mengobati badan seperti surat al-Fatihah, an-Naas dan al-Falaq serta yang lainnya tersebut di dalam sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". [Yunus :57]

Begitu pula dalam firmanNya:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". (ِAl-Israa’:82)

9. Al-Qur’an akan memintakan syafa’at (kepada Allah) bagi orang yang membacanya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memohonkan syafa’at bagi orang yang membacanya (di dunia)". [HR. Muslim].

10. Al-Qur’an sebagai hakim atas kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَأَنزَلْنَآإِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu". [al-Maidah: 48]

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata sesudah menyebutkan beberapa pendapat tentang tafsir (مُهَيْمِنًا ): “Pendapat-pendapat ini mempunyai arti yang berdekatan (sama), karena istilah (مُهَيْمِنًا ) mencakup semuanya, yaitu sebagai penjaga, sebagai saksi, dan hakim terhadap kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an adalah kitab yang paling mencakup dan sempurna, yang diturunkan sebagai penutup kitab-kitab sebelumnya, yang mencakup seluruh kebaikan (pada kitab-kitab) sebelumnya. Dan ditambah dengan kesempurnaan-kesempurnaan yang tidak (ada dalam kitab) yang lainnya. Oleh karena inilah Allah k menjadikannya sebagai saksi kebenaran serta hakim untuk semua kitab sebelumnya, dan Allah menjamin untuk menjaganya. [Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal. 65]

11. Berita Al-Qur’an pasti benar dan hukumnya adil. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

"Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya" [al-An-‘aam: 115].

Qatadah rahimahullah berkata: “Setiap yang dikatakan al-Qur’an adalah benar dan setiap apa yang dihukumi al-Qur’an adalah adil, (yaitu) benar dalam pengkhabaran dan adil dalam perintahnya, maka setiap apa yang dikabarkan al-Qur’an adalah benar yang tidak ada kebohongan dan keraguan di dalamnya, dan setiap yang diperintahkan al-Qur’an adalah adil yang tidak ada keadilan sesudahnya, dan setiap apa yang dilarang al-Qur’an adalah bathil, karena al-Qur’an tidak melarang (suatu perbuatan) kecuali di dalamnya terdapat kerusakan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

"Dia menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk" [al-A’raaf: 157] [Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal. 167]

12. Di dalam al-Qur’an terdapat kisah-kisah yang nyata, dan tidak (bersifat) khayalan, maka kisah-kisah Nabi Musa bersama Fir’aun adalah merupakan kisah nyata. Firman Allah:

نَتْلُوا عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ

"Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar". [al-Qashash: 3]

Begitu pula kisah As-Haabul Kahfi merupakan kisah nyata. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ

"Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya". [Al-Kahfi: 13].

Dan semua apa yang dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam al-Qur’an adalah haq (benar). Allah berfirman:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ

"Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar". [ali-Imran: 62]

13. Al-Qur’an mengumpulkan antara kebutuhan dunia dan akhirat. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ ولاَتَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآأَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu". [al-Qashash: 77]

14. Al-Qur’an memenuhi semua kebutuhan (hidup) manusia baik berupa aqidah, ibadah, hukum, mu’amalah, akhlaq, politik, ekonomi dan. permasalahan-permasalahan kehidupan lainnya, yang dibutuhkan oleh masyarakat. Allah berfirman:

مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ

"Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab". [al-An’aam: 38]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri". [an-Nahl: 89]

Al-Qurthubi berkata dalam menafsirkan firman Allah (مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ ) Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab (Al-An’aam: 38)
: “Yakni di dalam al-Lauh al-Mahfud. Karena sesungguhnya Allah l sudah menetapkan apa yang akan terjadi, atau yang dimaksud yakni di dalam al-Qur’an yaitu Kami tidak meninggalkan sesuatupun dari perkara-perkara agama kecuali Kami menunjukkannya di dalam al-Qur’an, baik penjelasan yang sudah gamblang atau global yang penjelasannya bisa didapatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , atau dengan ijma’ ataupun qias berdasarkan nash al-Qur’an”. [Juz 6 hal. 420].

Kemudian Al-Quthubi juga berkata: “Maka benarlah berita Allah, bahwa Dia tidak meninggalkan perkara sedikitpun dalam al-Qur’an baik secara rinci ataupun berupa kaedah.

Ath-Thabari berkata dalam menafsirkan ayat (وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ) “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu. (An-Nahl: 89): “Al-Qur’an ini telah turun kepadamu wahai Muhammad sebagai penjelasan apa yang dibutuhkan manusia, seperti mengetahui halal dan haram dan pahala dan siksa. Dan sebagai petunjuk dari kesesatan dan rahmat bagi yang membenarkannya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, berupa hukum Allah, perintahNya dan laranganNya, menghalalkan yang halal mengharamkan yang haram. …Dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri …… beliau berkata : “dan sebagai gambar gembira bagi siapa saja yang ta’at kepada Allah dan tunduk kepadaNya dengan bertauhid dan patuh dengan keta’atan, maka Allah akan berikan kabar gembira kepadanya berupa besarnya pahala di akhirat dan keutamaan yang besar. [Juz 14 hal. 161].

15. Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia dan jin.
Adapun (pengaruh yang kuat terhadap) manusia maka banyak kaum musyrikin pada permulaan Islam yang terpengaruh dengan al-Qur’an dan merekapun masuk Islam. Sedangkan di zaman sekarang, saya pernah bertemu dengan pemuda Nasrani yang telah masuk Islam dan dia menyebutkan kepadaku bahwa dia terpengaruh dengan al-Qur’an ketika ia mendengarkan dari kaset. Adapun (pengaruh yang kuat terhadap) jin, maka sekelompok jin telah berkata:

قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا {1} يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَئَامَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا

"Katakanlah (hai Muhammad0 :" Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya : sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur'an) , lalu mereka berkata : Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseoranpun dengan Rabb kami". [al-Jin : 1-2]

Adapun orang-orang musyrik, banyak diantara mereka yang terpengaruh dengan al-Qur’an ketika mendengarnya. Sehingga Walid bin Mughirah berkata: “Demi Allah, ini bukanlah syair dan bukan sihir serta bukan pula igauan orang gila, dan sesungguhnya ia adalah Kalamullah yang memiliki kemanisan dan keindahan. Dan sesungguhya ia (al-Qur’an) sangat tinggi (agung) dan tidak yang melebihinya. [Lihat Ibnu Katsir juz 4 hal 443].

16. Orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkan adalah orang yang paling baik. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya." [HR. Bukhari]

17.
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

"Orang yang mahir dengan al-Qur’an bersama malaikat yang mulia, sedang orang yang membaca al-Qur’an dengan tertatih-tatih dan ia bersemangat (bersungguh-sungguh maka baginya dua pahala" [HR. Bukhari-Muslim].
Arti As-Safarah = para malaikat.

18. Allah menjadikan al-Qur’an sebagai pemberi petunjuk dan pemberi kabar gembira. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

"Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar". [al-Isra: 9]

19. Al-Qur’an menenangkan hati dan memantapkan keyakinan. Orang-orang yang beriman mengetahui bahwa al-Qur’an adalah tanda (mujizat) yang paling besar yang menenangkan hati mereka dengan keyakinan yang mantap. Allah berfirman:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram". [ar-Rad: 28].

Maka apabila seorang mukmin ditimpa kesedihan, gundah gulana, atau penyakit, maka hendaklah ia mendengarkan al-Qur’an dari seorang Qari’ yang bagus suaranya, seperti al-Mansyawi dan yang lainnya. Karena Rasulullah Shalalllahu 'alaihi wa sallam bersabda:

حَسِّنُوْا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حَسَنًا

"Baguskan (bacaan) al-Qur’an dengan suaramu maka sesungguhnya suara yang bagus akan menambah keindahan suara al-Qur’an". [Hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’ karya Al-Albani rahimahullah].

20. Kebanyakan surat-surat dalam al-Qur’an mengajak kepada tauhid, terutama tauhid uluhiyah dalam beribadah, berdo’a, minta pertolongan.
Maka pertama kali dalam al-Qur’an yaitu surat al-Fatihah, engkau dapati firman Allah (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) “Kami tidak menyembah kecuali kepadaMu dan kami tidak minta pertolongan kecuali kepadaMu”. Dan diakhir dari al-Qur’an yaitu surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, engkau jumpai tauhid nampak sekali dalam firmanNya:

(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ).

"Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa ". [al-Ikhlash:], dan:

(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ)

"Katakanlah "Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai subuh". [al-Falaq:1] dan:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

"Katakanlah, "Aku berlindung kepada Rabb manusia". [an-Naas:1].

Dan masih banyak ayat tauhid di dalam surat-surat al-Qur’an yang lain. Di dalam surat Jin engkau baca firman Allah Azza wa Jalla :

قُلْ إِنَّمَآ أَدْعُوا رَبِّي وَلآ أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا

"Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya". [al-Jin: 20].

Juga di dalam surat yang sama Allah berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah". [al-Jin: 18].

21. Al-Qur’an merupakan sumber syari’at Islam yang pertama yang Allah turunkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kufur, syirik dan kebodohan menuju cahaya keimanan, tauhid dan ilmu. Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

"Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". [Ibrahim: 14].

22. Al-Qur’an memberitakan perkara-perkara ghaib yang akan terjadi, tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

"Golongan itu (yakni kafirin Quraisy) pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang". [al-Qamar: 45].

Dan sungguh orang-orang musyrik telah kalah dalam perang Badar, mereka lari dari medan peperangan. Al-Qur’an (juga) banyak memberitakan tentang perkara-perkara yang ghaib, kemudian terjadi setelah itu.

[Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dosen di Darul Hadits Al-Khairiyah di Makkah Al-Mukarramah]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Diterjemahkan oleh Ahmad Khamidin dari makalah yang berjudul Min Khashaish Al-Qur’an Al-Karim, di dalam majalah Al-Furqan no:85, hal: 24-25]
[2]. Penomoran dari penerjemah

Jumat, 03 Oktober 2014

Tenggelam Dalam Kesibukan Dunia Sehingga Hati Menjadi Budak Dunia



Musibah zaman sekarang, fitnah zaman sekarang di dunia ini adalah "Harta". Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam telah bersabda :
"Sesungguhnya setiap umat pasti ada fitnahnya dan fitnah umatku adalah harta." (Hadits riwayat At-Tirmidzi (2336) dalam kitab Az-Zuhd 'an Rasulullah, bab : Keterangan bahwa fitnah umat ini adalah harta. Ia berkata : Hadits Hasan shahih gharib. Dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (17017)).

Banyak kita lihat para pemuda larut dalam fitnah dunia yang menyeretnya kepada kesibukan-kesibukan duniawi. Ia sibuk mengumpulkan harta-harta. Itulah yang membuatnya binasa di lembah harta. Lalu para pemuda itu berteriak : "Mana jalan keluarnya!?"

"Apakah kami mesti meninggalkan pekerjaan untuk mengumpulkan harta setelah mengetahui tercelanya dunia atau kami tetap bekerja dan berusaha sehingga kami menjadi perancang kehidupan dunia!?"

Untuk menyingkap jawaban dalam masalah ini; sesuatu yang menjadi tujuan sekunder dan tidak menjadi tujuan primer haruslah disandarkan kepada maksud melakukannya. Sebab dengan begitu akan tampaklah nilai keutamaannya. Dunia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Namun dunia bisa menjadi penghalang seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Harta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dibenci. Bahkan sebaliknya, kadang kala harta menjadi sesuatu yang di tuntut. Namun bila harta itu melalaikan seseorang dari Allah, maka disitulah ia menjadi tercela. Dunia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk. Namun ia bisa menciptakan halangan-halangan. Kefakiran pada dasarnya bukanlah sesuatu yang diminta. Hanya saja kefakiran melenyapkan tembok penghalang dan tidak membuat seorang hamba sibuk dengan harta sehingga lupa mengingat Allah.

Akan tetapi, berapa banyak orang-orang kaya yang tidak disibukkan dengan kekayaannya dari mengingat Allah! Seperti nabi Sulaiman 'alaihis salam, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin 'Auf Radhiyallahu 'anhuma. Harta tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah. Demikian juga Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu yang menjadi contoh dan teladan yang baik bagi kita semua.

Sebaliknya, berapa banyak orang-orang miskin yang disibukkan dengan kefakirannya dari tujuan dan dijauhkan dari kedekatan kepada Allah!! Sesungguhnya yang menyebabkan ia lalai adalah kecintaan kepada dunia. Sebab, tidak akan terkumpul cinta dunia dan cinta Allah dalam hati seorang hamba selama-lamanya. Dan Orang yang mencintai sesuatu pasti disibukkan dengan yang dicintainya itu, baik saat jauh darinya maupun saat dekat dengannya. Bahkan kesibukannya mengingat kekasih ketika jauh darinya lebih parah lagi.

Dunia adalah dambaan orang-orang yang lalai. Orang yang dijauhkan darinya adalah orang-orang yang sibuk mengejarnya. Orang yang menguasai dunia adalah orang-orang yang sibuk menjaganya dan bersenang-senang menikmatinya. Oleh karena itu, jika engkau memandang masalah ini dengan pandangan yang lebih dalam maka akan jelas bagimu bahwa orang fakir lebih terhindar dari bahaya harta dunia. Karena fitnah yang menimpa orang-orang yang berharta lebih besar daripada yang menimpa orang-orang yang kekurangan. Dan yang paling selamat adalah engkau tidak bertemu dengan fitnah itu!

Maka dari itu, keteguhan dan tidak mundur ke belakang adalah dengan memahami hikmah dibalik kefakiranmu. Engkau dijauhkan dari harta, sebab bila engkau kaya engkau bisa sesat dan disibukkan dengan harta. Allah menahannya atasmu agar kamu bisa selamat. Jika engkau memahami hikmah ini, niscaya engkau bisa bersabar. Itulah arti ucapan Syaibaan Ar-Raa'i :
"Hitunglah kebaikan harta yang Allah tahan terhadap dirimu, sebab Dia menahannya darimu bukanlah karena bakhil. Sesungguhnya Dia menahannya karena kemahalembutan-Nya terhadapmu."

Jika Allah menahan harta darimu maka sesungguhnya Dia kasih terhadapmu, supaya kamu tidak sesat dan tidak tergelincir. Jika engkau memahami hal ini niscaya engkau bisa bersabar dan ridha.

Ketahuilah bahwa berpisah dengan sesuatu yang dicintai sangatlah pedih. Jika engkau mencintai dunia, engkau benci bertemu dengan Allah. Menyongsong kematian bagimu menjadi sesuatu yang sangat engkau benci, berpisah dari sesuatu yang engkau cintai. Perlu engkau ketahui, tidaklah seorang berpisah dengan kekasih yang dicintainya melainkan sakit yang dialami karena perpisahan pasti sesuai dengan kadar kecintaan dan kedekatannya dengan kekasihnya itu. Maka seharusnya engkau mencintai sesuatu yang tidak akan berpisah denganmu, yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala. Janganlah engaku mencintai dunia, karena ia akan meninggalkanmu dan engkau akan meninggalkannya. Oleh karena itu janganlah engkau terlalu berambisi terhadap dunia!

Solusinya.. Pengobatannya wahai saudaraku :

Tidak terlalu berambisi terhadap dunia, dan tidak terlalu bebas terhadap perkara-perkara yang dibolehkan. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam membenci terlalu banyak bermegah-megahan... yakni kemewahan. Dalam hadits Abdu bin Buraidah Radhiyallahu 'anhu ia berkata : "Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam melarang kami terlalu banyak bermewah-mewahan." (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (23449) dan Abu Dawud dalam Sunannya (4160) dalam kitab At-Tarajjul, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albaani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (3506).

Ambillah dunia sekadar kebutuhanmu. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : "Beruntunglah orang yang mendapat petunjuk dan diberi rezeki secukupnya serta Allah memberinya sifat Qona'ah terhadap apa yang telah Allah berikan kepadanya."

Mengejar perbendaharaan akhirat. Bukan syarat engkau harus punya mobil, berharaplah pahala yang disediakan di sisi Allah. Bukan syarat engkau harus memiliki istri yang cantik, tunggu sajalah bidadari-bidadari jannah yang disediakan untukmu.
Sesungguhnya pada diri Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam terdapat teladan yang baik bagimu. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : "Tidak ada ambisiku terhadap dunia. Sesungguhnya kedudukanku terhadap dunia seperti musafir yang berteduh di bawah naungan pohon, tak lama kemudian ia pun berangkat meninggalkannya."

Allahu Ta'ala A'lam...

Sabtu, 27 September 2014

Takwa, Semudah Itukah?


Kata “takwa” sangat sering kita dengar dalam ceramah-ceramah agama, sebagaimana kalimat ini mudah dan ringan diucapkan di lisan kita. Akan tetapi, sudahkah hakikat kalimat ini terwujud dalam diri kita secara nyata? Sudahkah misalnya ciri-ciri orang yang bertakwa yang disebutkan dalam ayat berikut ini terealisasi dalam diri kita?




الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ، وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ


“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (Qs. Ali ‘Imran: 134-135)





Maka mempraktekkan kalimat ini tidak semudah mengucapkannya, khususnya kalau kita mengetahui bahwa takwa yang sebenarnya adalah amalan hati dan bukan sekedar apa yang tampak pada anggota badan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takwa itu terletak di sini”, sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dada/hati beliau tiga kali[1].


Di sinilah letak sulitnya merealisasikan takwa yang hakiki, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala, karena kalau anggota badan mudah kita kuasai dan tampakkan amal baik padanya, maka tidak demikian keadaan hati, sebab hati manusia tidak ada seorangpun yang mampu menguasainya kecuali Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,


وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ


“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (menghalangi) antara manusia dan hatinya.” (Qs. al-Anfaal: 24)


Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya semua hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman (Allah Ta’ala), seperti hati yang satu, yang Dia akan membolak-balikkan hati tersebut sesuai dengan kehendak-Nya”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Wahai Allah Yang membolak-balikkan hati (manusia), palingkanlah hati kami untuk (selalu) taat kepad-Mu.” [2]


Takwa yang Hakiki


Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba hanyalah mampu melalui tahapan-tahapan perjalanan menuju (ridha) Allah dengan hati dan keinginannya yang kuat, bukan (cuma sekedar) dengan (perbuatan) anggota badannya. Dan takwa yang hakiki adalah takwa (dalam) hati dan bukan takwa (pada) anggota badan (saja). Allah Ta’ala berfirman,


ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ


“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati.” (Qs. al-Hajj: 32)


(Dalam ayat lain) Allah berfirman,


لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ


“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(Qs. al-Hajj: 32)


Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


التقوى ههنا. ويشير إلى صدره ثلاث مرات.


“Takwa itu (terletak) di sini”, dan beliau menunjuk ke dada (hati) beliau tiga kali[3], …[4]


Imam an-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas, beliau berkata, “Artinya: Sesungguhnya amalan perbuatan yang tampak (pada anggota badan) tidaklah (mesti) menunjukkan adanya takwa (yang hakiki pada diri seseorang). Akan tetapi, takwa (yang sebenarnya) terwujud pada apa yang terdapat dalam hati (manusia), berupa pengagungan, ketakutan dan (selalu) merasakan pengawasan Allah Ta’ala.”[5]


Makna takwa yang hakiki di atas sangatlah jelas, karena amal perbuatan yang tampak pada anggota badan manusia tidak mesti ditujukan untuk mencari ridha Allah Ta’ala semata. Lihatlah misalnya orang-orang munafik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menampakkan Islam secara lahir, dengan tujuan untuk melindungi diri mereka dari kaum muslimin, padahal dalam hati mereka tersimpan kekafiran dan kebencian yang besar terhadap agama Islam. Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً


“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas-malasan, mereka bermaksud riya’/pamer (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisaa': 142)


Demikianlah keadaan manusia dalam mengamalkan agama Islam secara lahir, tidak semua bertujuan untuk mencari ridha-Nya. Bahkan di antara mereka ada yang mengamalkan Islam hanya ketika dirasakan ada manfaat pribadi bagi dirinya, dan ketika dirasakan tidak ada manfaatnya maka dia langsung berpaling dari agama Islam.


Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala,


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ


“Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi (untuk memuaskan kepentingan pribadi), jika mendapatkan kebaikan (untuk dirinya), dia akan senang, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana/hilangnya nikmat, berbaliklah ia ke belakang (berpaling dari agama). Rugilah dia di dunia dan akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Qs. al-Hajj: 11)


Artinya: Dia masuk ke dalam agama Islam pada tepinya (tidak sepenuhnya), kalau dia mendapatkan apa yang diinginkannya maka dia akan bertahan, tapi kalau tidak didapatkannya maka dia akan berpaling[6].


Beberapa Contoh Pengamalan Takwa yang Hakiki


Beberapa contoh berikut ini merupakan pengamalan takwa yang hakiki, karena dilakukan semata-semata karena mencari ridha Allah dan bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan hawa nafsu.


1- Firman Allah Ta’ala,


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ


“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (Qs. Ali ‘Imran: 134)


Ketiga perbuatan ini, berinfak/bersedekah dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan kemarahan di saat kita mampu melampiaskannya dan memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah kepada kita, adalah perbuatan yang bersumber dari ketakwaan hati dan bersih dari kepentingan pribadi serta memperturutkan hawa nafsu.


2- Firman Allah Ta’ala,


وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ على أَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى


“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Qs. al-Maaidah: 8)


Imam Ibnul Qayyim membawakan ucapan seorang ulama salaf yang menafsirkan sikap adil dalam ayat ini, beliau berkata, “Orang yang adil adalah orang yang ketika dia marah maka kemarahannya tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan, dan ketika dia senang maka kesenangannya tidak membuat dia menyimpang dari kebenaran.”[7]


Kebanyakan orang bisa bersikap baik dan adil kepada orang lain ketika dia sedang senang dan ridha kepada orang tersebut, karena ini sesuai dengan kemauan hawa nafsunya. Tapi sikap baik dan adil meskipun dalam keadaan marah/benci kepada orang lain, hanya mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ketakwaan dalam hatinya.


3- Doa yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih:


اللهم وأسألك خشيتك في الغيب والشهادة وأسألك كلمة الحق في الرضا والغضب وأسألك القصد في الفقر والغنى


“Ya Allah, aku minta kepada-Mu rasa takut kepada-Mu di waktu sendirian maupun di hadapan orang lain, dan aku minta kepada-Mu ucapan yang benar dalam keadaan senang maupun marah, dan aku minta kepada-Mu kesederhanaan di waktu miskin maupun kaya.”[8]


Takut kepada Allah di waktu sendirian, ucapan yang benar dalam keadaan marah dan sikap sederhana di waktu kaya hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki takwa dalam hatinya.


4- Ucapan Yahya bin Mu’adz ar-Raazi[9], “Cinta karena Allah yang hakiki adalah jika kecintaan itu tidak bertambah karena kebaikan (dalam masalah pribadi/dunia) dan tidak berkurang karena keburukan (dalam masalah pribadi/dunia)”[10]


Cinta yang dipengaruhi dengan kebaikan/keburukan yang bersifat duniawai semata bukanlah cinta yang dilandasi ketakwaan dalam hati.


Kiat untuk Mencapai Takwa yang Hakiki


Berdasarkan keterangan para ulama ahlus sunnah, satu-satu cara untuk mewujudkan ketakwaan dalam hati, setelah berdoa kepada Allah Ta’ala, adalah dengan melakukan tazkiyatun nufus (pensucian jiwa/pembersihan hati), karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala yang sebenarnya (ketakwaan dalam hati) tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan berusaha mensucikan dan membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang menghalangi seorang hamba untuk dekat kepada Allah Ta’ala.


Allah Ta’ala Menjelaskan hal ini dalam firman-Nya,


وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا


“Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (dengan ketakwaan), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan).” (Qs. Asy Syams: 7-10)


Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa beliau, “Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.” [11]


Imam Maimun bin Mihran[12] berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai takwa (yang hakiki) sehingga dia melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi terhadap keinginan jiwa untuk mencapai kesucian jiwa) yang lebih ketat daripada seorang pedagang yang selalu mengawasi sekutu dagangnya (dalam masalah keuntungan dagang). Oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa jiwa manusia itu ibaratnya seperti sekutu dagang yang suka berkhianat. Kalau Anda tidak selalu mengawasinya, dia akan pergi membawa hartamu (sebagaimana jiwa akan pergi membawa agamamu)”[13]


Ketika menerangkan pentingnya pensucian jiwa ini, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata, “Orang-orang yang menempuh jalan (untuk mencari keridhaan) Allah, meskipun jalan dan metode yang mereka tempuh berbeda-beda, (akan tetapi) mereka sepakat (mengatakan) bahwa nafsu (jiwa) manusia adalah penghalang (utama) bagi hatinya untuk sampai kepada (ridha) Allah (sehingga) seorang hamba tidak (akan) mencapai (kedekatan) kepada Allah kecuali setelah dia (berusaha) menentang dan menguasai nafsunya (dengan melakukan tazkiyatun nufus).” [14]


Kemudian, pensucian jiwa yang benar hanyalah dapat dicapai dengan memahami dan mengamalkan petunjuk Allah dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Allah Ta’ala menjelaskan salah satu fungsi utama diturunkannya Al Qur-an, yaitu membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari noda dosa dan maksiat yang mengotorinya, dalam firman-Nya,


أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ


“Allah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka aliran air itu itu membawa buih yang mengambang (di permukaan air). Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”(Qs. Ar Ra’d: 17)


Ketika menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala mengumpamakan ilmu yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan air (hujan), karena keduanya membawa kehidupan dan manfaat bagi manusia dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Kemudian Allah mengumpamakan hati manusia dengan lembah (sungai, danau dan lain-lain), hati yang lapang (karena bersih dari kotoran) akan mampu menampung ilmu yang banyak sebagaimana lembah yang luas mampu menampung air yang banyak, dan hati yang sempit (karena dipenuhi kotoran) hanya mampu menampung ilmu yang sedikit sebagaimana lembah yang sempit hanya mampu menampung air yang sedikit, Allah berfirman (yang artinya), “…Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya (daya tampungnya).” (Kemudian Allah berfirman yang artinya), “…Maka aliran air itu itu membawa buih yang mengambang (di permukaan air).” Ini adalah perumpamaan yang Allah sebutkan bagi ilmu (wahyu dari-Nya) ketika kemanisan ilmu tersebut masuk dan meresap ke dalam hati manusia, maka ilmu tersebut akan mengeluarkan (membersihkan) dari hati manusia buih (kotoran) syubhat (kerancuan dalam memahami dan mengamalkan agama) yang merusak sehingga kotoran tersebut akan mengambang (tidak menetap) di permukaan hati, sebagaimana aliran air akan mengeluarkan kotoran dari lembah sehingga kotoran tersebut akan mengambang di permukaan air. Dan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa kotoran tersebut mengambang dan mengapung di atas permukaan air, tidak menetap (dengan kuat) di atas tanah. Demikian pula (keadaan kotoran) syubhat yang rusak ketika ilmu mengeluarkan (membersihkan)nya (dari hati), syubhat tersebut akan mengambang dan mengapung di atas permukaan hati, tidak menetap dalam hati, bahkan (kemudian) akan dibuang dan disingkirkan (dari hati), sehingga (pada akhirnya) yang menetap pada hati tersebut adalah petunjuk (ilmu) dan agama yang benar (amal shaleh) yang bermanfaat yang bermanfaat bagi orang tersebut dan orang lain, sebagaimana yang akan menetap pada lembah adalah air yang jernih dan buih (kotoran) akan tersingkirkan sebagai sesuatu yang tidak berguna. Tidaklah mampu (memahami) perumpaan-perumpaan dari Allah kecuali orang-orang yang berilmu.” [15]


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mempertegas perumpaan di atas dalam sabda beliau, “Sesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…”[16]


Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari membawakan ucapan para ulama dalam menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan bagi agama yang beliau bawa (dari Allah) seperti air hujan (yang baik) yang merata dan turun ketika manusia (sangat) membutuhkannya, seperti itu jugalah keadaan manusia sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sebagaimana air hujan tersebut memberi kehidupan (baru) bagi negeri yang mati (kering dan tandus), demikian pula ilmu agama akan memberi kehidupan bagi hati yang mati…” [17]


Oleh karena itulah, Imam Ibnul Jauzi di sela-sela sanggahan beliau terhadap sebagian orang-orang ahli tasawuf yang mengatakan bahwa ilmu tentang syariat Islam tidak diperlukan untuk mencapai kebersihan hati dan kesucian jiwa, beliau berkata, “Ketahuilah bahwa hati manusia tidak (mungkin) terus (dalam keadaan) bersih. Akan tetapi (suatu saat mesti) akan bernoda (karena dosa dan maksiat), maka (pada waktu itu) dibutuhkan pembersih (hati), dan pembersih hati itu adalah menelaah kitab-kitab ilmu (agama untuk memahami dan mengamalkannya)” [18]


Penutup


Setelah membaca tulisan di atas, jelaslah bagi kita bagaimana pentingnya mengkaji dan memahami ilmu agama, karena inilah satu-satunya cara untuk meraih kemuliaan tingi dalam agama, yaitu ketakwaan hati dan kesucian jiwa. Oleh karena itu, sangat wajar kalau kita dapati para ulama Ahlus Sunnah menggambarkan kebutuhan manusia terhadap ilmu agama melebihi besarnya kebutuhan mereka terhadap semua kebutuan pokok dalam kehidupan mereka.

Alangkah indahnya ucapan Imam Ahmad bin Hambal, Imam ahlus Sunnah di jamannya, ketika menggambarkan kebutuhan manusia terhadap ilmu agama ini dalam ucapan beliau yang terkenal: “Kebutuhan manusia terhadap ilmu (agama) melebihi besarnya kebutuhan mereka terhadap makan dan minum, karena makan dan minum dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari, adapun ilmu (agama) dibutuhkan (sesuai) dengan hitungan nafas manusia (setiap waktu).” [19]


Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa:

Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwa-jiwa kami semua ketakwaannya,

dan sucikanlah jiwa kami (dengan ketakwaan itu),

Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya,

(dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


Kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 13 Ramadhan 1430 H


***


Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.

Artikel www.muslim.or.id


http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/takwa-semudah-itukah.html

Jawabannya adalah . . .

Sungguh seperti ini ternyata skenario Allah. Membuka sejelas-jelasnya jawaban atas segala pertanyaan yang aku lontarkan. Lebih dari cukup peristiwa hari ini. Sudah sangat meyakinkan sekali kalau kamu, ternyata tujuannya adalah dia.

Aku bahagia walau rapuh dalam raga. Tapi air mata tidak sedikitpun mengurangi beban. Jadi sia-sia saja kalau hanya dihabiskan untuk menangis. Kamu pantas dengan dia, begitupun sebaliknya. Lingkungan tersenyum menyertai kebahagiaan kalian. Sungguh manis:')

Semoga saja setelah hari ini, kalian jadi semakin dekat. Dan aku akan mulai menyadari posisiku harus bagaimana. Memang berat karena aku selalu mengamati ringkah polah kalian. Terlalu dekat, aku takut tidak sanggup. Maaf, maaf, maaf. Maaf jika aku harus sedikit berpura-pura demi sebuah goret senyum. Maaf jika aku harus sedikit berbohong hanya untuk menghilangkan kesan 'itu'.

Tapi tak usah jadi pikiran dan takut kalau aku akan masuk dalam lingkaran kalian. Tidak. Itu tidak akan. Aku pastikan! Jalanilah semua dengan hati yang indah, buatlah lembaran bersama. Semoga Allah meridhoinya :o) aminn

Jumat, 26 September 2014

Detik Awal Tumbuhnya Benih

Bukan hati namanya kalau gabisa menyembunyikan rasa yang sebenarnya terkubur.
Bukan hati namanya kalau ga pandai membalut luka yang mulai berbekas.
Dan hati ini hanya milik Kaum Hawa.
Sulit mengerti apa aku berada dalam suatu rasa atau tidak. Tapi dimulai kala itu kita jadi dekat. Seperti ada magnet yang menarikku. Entahlah. Mungkin ini hanya perasaan aku yang sebenarnya hanya khayal semata. Siapalah aku, hanya HambaNya yang bisa menebak tanpa tau bagaimana takdirku yang telah tertulis.

"Hanya bisa menatap dalam diam karena aku tak tau apa yang sebaiknya aku lakukan, biarlah waktu yang menuntunku kemana seharusnya aku melangkah."

Kadang betapa sakit kalau melihat kamu bercanda dengan yang lain, aku tau harusnya tak begitu. Itu spontan. Terlalu cepat memang untuk menaruh hati padamu tapi rasa inilah yang membuat semua terasa sangat cepattt. Aku yang sepertinya terlalu bangga, terlalu percaya diri kalau kamu juga seperti aku. Ah, sepertinya ada yang jauh lebih baik daripada aku. Jadi, tak ada alasan untuk memilih aku. Yepp, mungkin ikatan T E M A N sudah lebih dari cukup. Aku paham. Mari kita lihat takdir sajaa:')

Sabtu, 20 September 2014

Kata Dalam Bisu

by : Weby Rahmawati
on : 20 Sept 2014
Daun menari bersama angin
Mahkota direbuti si penghisap
Hamparan kapas menyambut baik
Kala itu
Berpesta ria tertawa riang
Namun bagaimana dengan aku
Menatap bayang diri semu
Remang-remang dalam gelap
Aku masih terpaku
Terkunci rapat dalam bisu
Mencoba mendobrak hingga bebas
Sayang, Tuhan tak berpihak
Masih jadi rahasia
Entah apa dan bagaimana aku
Saat dunia berganti
Mungkin masih terkunci
Mungkin sudah bebas

Sabtu, 06 September 2014

SABAR dan REMAJA

Assalamu'alaikum temen-temen semua. Kali ini kita bahas tentang sabar ya. Ini bahasan yang umum sekali dan pasti kalian sudah sangat paham mengenai ini.
Sabar, secara etimologi berarti menahan dan mencegah (al-habsu wal kaffu). Secara terminologi, sabar adalah menahan diri untuk melakukan keinginan dan meninggalkan larangan Allah swt, sabar juga berarti sikaf tegar dan kukuh dalam menjalankan ajaran Islam ketika muncul dorongan nafsu, ketegaran yang dibangun diatas landasan Al-Qur’an dan As-sunnah. Sabar dapat juga berarti puncak sesuatu, orang yang memiliki kesabaran, akan sampai pada puncak kemuliaan. Allah telah memuji orang-orang yang bersabar dan menyebutkan mereka dalam firman-Nya : “hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas.” (QS.Az-Zumar : 10).

Nah itu definisi umumnya, sekarang coba kita kaitkan SABAR dengan kaum REMAJA. Di era modern ini bukan tidak mungkin para remaja bisa dihitung jari yang memiliki kesabaran yang luar biasa. Untuk hal-hal sepele, emosinya sudah langsung meluap, tidak bisa sedikit saja menahan diri. Contohnya dalam:

1. Sabar dalam belajar
Hayo, ini biasanya yang paling sering membuat remaja (pelajar) jadi stress ga karuan dan akhirnya tidak bisa mengontrol emosinya. Tugas sedikit - ditunda tunda - akhirnya numpuk - jadi males ngerjain - makin numpuk - jadi marah marah gajelas - stress sendiri - and tidak dikerjakan semuanya finally. Ini problem yang sudah membabi buta kalau lebaynya ya. Kita kan sudah mengerti kalau menuntut ilmu itu wajib hukumnya dan wajib itu kalau ditinggalkan dosa kan yaa? Makanya gaada salahnya untuk sabar. Kerjain aja tugas nya dicicil gitu, nanti kan ga kerasa tugasnya udah selesai. Jangan mikir seberapa banyak tugas yang dikasih, tapi coba lihat manfaat dari tugas itu.

2. Sabar dalam hubungan sosial
Maksud sabar disini adalah sabar untuk menjauhi zina. Seperti yang kita tau, sebagai muslim yang baik tidak boleh berdekatan dengan yang bukan makhramnya. "PACAR" wah kata ini pasti kalian sudah mengenal dengan baik. Kalau ditanya, penting engga punya pacar? Pasti jawabnya beragam ya. Tapi yang harus diingat, waktu kita di dunia ini ga banyak. Ada hal lain yang jauh lebih penting daripada harus ngurusin pacar. Bersabar sedikit dalam berhubungan, sebatas temen aja cukup kan? Jodoh sudah ada yang ngatur *prinsip* Kalau kita baik, jodoh yang baik bakal nyamperin jadi jangan terburu-buru.

3. Sabar dalam keluarga
Remaja itu masa dimana emosi sangat labil. Kalau sedang lelah dan males, pasti ujung-ujungnya marah. Apalagi kalau di rumah, disuruh orang tua sedikit ngeluh, disuruh jagain ade ngeluh, dikasih kerjaan sepele ngeluh. Alasannya, capek seharian di sekolah banyak tugas dan sebagainya. Disinilah kita diuji. Sejauh mana kita bisa melewati semua beban kehidupan. Orang sabar gaakan sia-sia kok. Justru ketika kita sabar, Allah swt. sedang mempersiapkan sebuah jembatan menuju kemudahan. Mengeluh boleh tapi hanya kepadaNya. Tapi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang mengeluh. Keluarga di rumah adalah satu-satunya tempat dimana seharusnya kita bisa saling sharing tentang aktivitas kita. Bukan malah menjadi tempat untuk meluapkan emosi setelah seharian beraktivitas.

Yap, sekian nih dari saya. Semoga berkah ya. Saya menulis ini karena pengalaman saya, sebenarnya saya juga masih belajar untuk sabar karena memang manusia itu ladangnya dosa dan yang sempurna hanya Allah swt. Sebagai sesama makhluknya, wajib untuk saling mengingatkan. Sabar itu indah.
Wassalamu'alaikum.

Minggu, 18 November 2012

♥Malaikatku♥



By : Weby R.
On : 18 November 2012

Jari jemarimu
Membuatku seperti ini
Meraih cita yang ku damba
Padahal ku selalu merengek
Saat kau tak mengerti yang ku katakan
Berjuang tuk mengerti aku
Walau jarang aku mengertimu

Kau malaikatku di bumi
Malaikat yang amat jelita
Berhati putih
Senandung itu mengantarku terlelap
Di masa kecil

Doa selalu kau curahkan padaku
Ridhomu adalah ridho-Nya
Itulah mengapa
Surga di bawah telapak kakimu

Minggu, 11 November 2012

C-I-N-T-A






"Cinta itu Buta" setujukah kalian dengan pepatah ini?
Kenapa cinta itu buta dan apa sih cinta itu? apa kalian bisa mengungkapkan itu semua?
Oke kita gunakan rumus 5W+1H :

1. What = Apasih cinta itu?
Cinta itu adalah perasaan kasih kepada seseorang atau sesuatu yang melebihi dari rasa sayang.
Cinta itu gaharus selalu ke pasangan kan? Cinta kepada Allah SWT , cinta ke orang tua, cinta lingkungan dll.
Tapi kenapa, banyak yg sakit hati gara" cinta? emang cinta salah yaaa?

2. Who = Siapa yang menciptakan cinta?
Pastinya Sang Maha Kuasa.. Cinta diciptakan agar kita semua saling mengasihi, damai, tentram, saling menjaga dan melindungi. Tapi kenapa, banyak yang bertengkar karena merebutkan rasa cinta dari seseorang? banyak yang mendendam gara" cinta, apa sebabnya??

3. Where = Cinta itu ada dimana?
Cinta ada dimana-mana:D Banyak disekitar kita, bertebaran. Hanya saja, kita tidak pandai menggapai cinta itu. Cinta itu tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam. Allah SWT sudah menciptakan makhluknya berpasangan, jadi pasti kita akan menemukan cinta itu "SUATU SAAT" . Tapi kenapa, banyak yg bunuh diri gara" cinta? gara" cinta itu direbut orang lain? padahal mungkin, Allah sudah menyiapkan cinta yg lebih baik dari itu...

4. When = Kapan cinta itu datang?
Kapan aja bisaa datang.. Dan kedatangannya pun tidak akan kita sadari, karena itu tiba" muncul gitu ajaa.
Kita baru sadar, ketika cinta itu sudah mulai tumbuh dan berkembang. Cinta gabisa dimusnahkan loh sobat! Tapitapi, kenapa banyak yg menyia-nyiakan cinta yg datang? kenapa cinta itu malah dilepasin gitu ajaaa?

5. Why = Mengapa banyak sakit hati gara" cinta?
Nah ada yg tau kenapa?? Salah satunya adalah karena kita terlalu cinta pada seseorang itu dan kita juga terlalu cemburu pada orang itu. Serba salah kan??
Mangkanya, secinta-cinta nya kita kepada orang lain, jangan sampai melebihi cinta kita pada Sang Maha Pencipta dan kepada kedua orang tua kitaa. Cinta ke orang lain itu yaa yg wajar" ajalah..

6. How = Bagaimana agar kita bisa menemukan cinta yang kita cari?
Emm, caranya adalah terus kejar cinta itu. Kapanpun dan dimanapun. Memang cinta itu datang sendiri, tapi minimal ada usaha juga dong?! Ikuti kata hati kamu, karena hati tak pernah berbohong...


Nah semoga kalian bisa menemukan cinta itu ya sobat bloggers dimanapun kalian beradaaa=D

Bersenandung di Kegalauan




Bloggers, saya lagi galau #masihjaman?
Yah, tapi mau gimana lagii. Kalo yg namanya galau, gabisa ditebak kpn datengnyaa
Nah kalo kita galau kan biasanya langsung denger musik galau trus nyanyi dehh
Ini ada beberapa lagu yang bisa anda dengarkan jika galau, tpi ini my self's version okey (y)

  1. ACHA S. – TENTANG KITA 
  2. ACHA S. feat IRWANSYAH – MY HEART 
  3. AGNES M. – CINTAKU DI UJUNG JALAN 
  4. AGNES M. – JERA 
  5. AGNES M. – KARENA KU SANGGUP 
  6. AGNES M. – MATAHARIKU 
  7. AGNES M. – SEPUTIH HATI 
  8. AGNES M. feat TITI DJ – HANYA CINTA YANG BISA 
  9. ARI LASSO – HAMPA 
  10. AUDY – MENANGIS SEMALAM 
  11. BUNGA C. L. – KARENA KU CINTA KAU 
  12. CAKRA – HARUS TERPISAH 
  13. COKELAT – KARMA 
  14. DEWI SANDRA – KAPAN LAGI BILANG I LOVE YOU 
  15. GEISHA – CINTA DAN BENCI 
  16. GEISHA – JIKA CINTA DIA 
  17. GEISHA – SELALU SALAH 
  18. IWAN FALS – IJINKAN AKU MENYAYANGIMU 
  19. JUDIKA – AKU YANG TERSAKITI 
  20. JUDIKA – BUKAN DIA TAPI AKU 
  21. KOTAK – PELAN-PELAN SAJA 
  22. KOTAK – TINGGALKAN SAJA 
  23. LAST CHILD – DIARY DEPRESIKU 
  24. LAST CHILD – PEDIH 
  25. LAST CHILD feat GISELL – SELURUH NAFAS INI 
  26. LYLA – BERNAFAS TANPAMU 
  27. MARCELL – TAKKAN TERGANTI 
  28. NOAH – SEPARUH AKU 
  29. PASTO – JUJUR AKU TAK SANGGUP 
  30. PETERPAN – SEMUA TENTANG KITA 
  31. RAISA – APALAH (ARTI MENUNGGU) 
  32. RESSA H. – MENYESAL 
  33. RIO FEBRIAN – MAAFKAN 
  34. ROSSA feat BROERY M. – JANGAN ADA DUSTA DIANTARA KITA 
  35. ROSSA feat PASHA – TERLANJUR CINTA 
  36. RUMOR – BUTIRAN DEBU 
  37. T2 – TAK JODOH 
  38. TANGGA – UTUH 
  39. TITI DJ – JANGAN BIARKAN 
  40. TQLA – RAPUH

Nah, buat yg lagi galau, tinggal di download aja tuh lagu2 nyaaa ;)

Doaku Untuk Tuhan



By : Weby R.
On : 07 Oktober 2012

Akulah aku . . .
Tak ada yang mengerti perasaanku
Aku senang, sedih
Tak ada yang peduli
Keluargamu tak seperti keluargaku
Masalah datang bertukar-tukar
Ombak menghancurkan keluargaku
Seakan tak ada harapan lagi
Ingin aku menangis
Menjerit sekeras-kerasnya
Mengeluarkan pahit dihati
Ibu . . .
Aku sangat mencintainya Tuhan
Tak ingin membiarkannya menangis
Jasanya tak bisa ku balas
Aku mohon Tuhan
Berilah ketabahan
Padaku dan keluargaku

Kembalikan kebahagiaan
Kembalikan senyuman
Seperti dulu kala
Atau mungkin . . .
Cabutlah nyawaku
Aku siap. rela
Apapun ku lakukan
Demi keluargaku untuh kembali
Aku iri . . .
Orang lain tak begini
Tapi ku yakin
Tuhan sayang keluargaku
Berikan jalan terbaikMu
Bukakan pintu kebahagiaan
Tak mau ku berdosa
Membuat khilaf

Hidup kelam semoga hilang
Hidup terang selamat datang
Tuhan dengar doaku ini
Aku yakin kau slalu dengar

Sabtu, 10 November 2012

Apa istimewanya SATNIGHT?




Bloggers, kali ini kita bahas tentang SATNIGHT..
Widihh, kayaknya ada yg pengen tau banget nihh ehehe=D

SATNIGHT atau Saturday Night atau bahasa kerennya itu Malam Minggu. Pasti udah pada kenal kan? Ya iyalah, apalagi yg couple gituhh._.v
Nah, aku pengen nanya sama kalian, apasih istimewanya satnight? apa ada artis gituh? atau ada yg WOW?
Ehemm, gini deh kita ungkap aja semua rahasia dibalik rahasiaa #cielah

Satnight itu sebenernya sama ajasih kayak malam2 biasaaa, langitnya gelap kok=)
Mungkin untuk couple, satnight itu emang seru yaa.. Bisa jalan2 bareng, mejeng, party dll pkoknyaa
Buat yg bersahabat juga pasti gitu, satnight bkin acara piyama party, ataupun makan2, dan mumpung besoknya itu hari liburr.. Jadi, pasti seru kan??? Kalo yg kayak begitu sih yaa enak-enak aja, karena satnightnya selalu diisi sama acara yg rameee. Tapi nasib yg ga kayak begitu gimana?

Kalo yg kerjaannnya ngegalau teruss, nangisin mantan terus, mkirin masalah terus, pulsa abis, kantong kering, disuruh jaga rumah terus, jaga ade atau segala macem, itu gimana?
Pasti mereka milih diem dirumah kan? Apalagi kalo dia pngen keluar pas satnight, eh malah ga ada temen yg nyamper._.
Aduh kasian sekali hidupnyaa..
Mereka pasti mikir, satnight itu garame, bosen, sama kayak malam yg lain-___-

Kalian tau ga, kalo diluar negeri itu malam minggu bukan harinya libur, malahan hari liburnya itu malam jum'at. Widihhh, merinding dong ya? Disana, kalo malam jum'at itu malah rame. Kalo disini? Malah sepi beudd-,-
So guys, satnight bisa dibilang istimewa kalo pada saat itu kita ngerasain hal yg spesial. But, kalo pas satnight kita biasa-biasa aja yaa pasti itu akan terasa boring sangat! Intinya, diri kalian sendiri yg bisa membuat satnight itu istimewa atau boring.. That is your day. Make it to be wonderful guys (y)


Okeh sekian artikel tentang satnight ini, yg satnight nya galau terus, LANJUTKAN! #eh :D

Jumat, 09 November 2012

Can You See?



By : Weby Rahmawati
On : 09 November 2012

Can you see ?
I always waiting for you
I always beside you
But you never see
Open your eyes
Can you see it ?
Yes, it's me

You never know
How my feeling
How my life
How my self
I'm down
Down and can't up
. . . . . . . . . . . . .

Kamis, 08 November 2012

Ketika Wanita♥



By : Weby R.
On : 30 Oktober 2012

Ketika wanita tersenyum
Hatinya justru berantakan
Menahan pedihnya duri menusuk
Ketika itulah ia mencoba
Tuk setegar batu karang
Menahan derasnya ombak
Ketika wanita menangis
Luapan tak dapat dibendung
Kantung mata ini tak kuat
Hati lembut bak sutra
Tercabik tak tersisa
Wanita terkadang kuat terkadang lemah
Ketika kuat . . .
Percayalah takkan ada yang bisa menjatuhkannya
Ketika lemah . . .
Percayalah sulit membuatnya tersenyum kembali
Namun,
Ia akan tumbuh kembali
Menjadi wanita yang lebih TEGAR!

Minggu, 14 Oktober 2012

Mohon



By : Weby Rahmawati
On : 9 Oktober 2012

Seandainya kau tahu
Aku ingin kau kembali
Disini . . .
Duduk berdua
Hanya aku dan kamu
Bukan ini yang kumau
Kau dan dia
Bersatu?
Rasanya seperti sembilu
Menyayat-nyayat hati
Aku lebih baik dari rembulan
Harusnya kau sadar!
Tak bisakah pintu itu terbuka lagi
Untukku . . .
Hanya untukku

Cara move on ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ



   Beberapa lembaran dulu sedang kucoba tuk dihapus bahkan kalau perlu dibakar saja. Aku gak butuh lembaran yang berisi tentang love story yang penuh dengan 'drama'. Penuh dengan air mata sampai bendungan pun tak dapat menampungnya. Gak sudi kalau harus terperosok ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya, cukup sekali seumur hidup!
   Emang sih move on itu gak segampang membalikan telapak tangan. Tapi minimal ada usaha dong._. Biarpun hasilnya ga maximal, tapi seiring waktu berputar, perlahan kita bisa move on kan? Nah buat kamu kamu sekalian yang pada belum bisa move on, nih aku kasih caranya biar kalian bisa move on secara perlahan tapi ini sih versi aku hehehe._.v

Caranya :

  1. Jauhi dia untuk beberapa minggu sampai 2 bulan kurang lebih.
  2. Jangan sms'an, bb'an atau bahkan OTP'an (On The Phone) sama dia.
  3. Delcon (delete contact) dia, kalo hafal yaa dilupa-lupain aja ehehe :Dv
  4. Lampiaskan rasa galau kamu dengan melakukan aktifitas yang kamu sukai, contohnya dengerin musik, nonton film, maen game, nyanyi, nari dll.
  5. Kalo masih belum bisa move on, unfriend di fb, unfollow di twitter, pokoknya jangan sampai kamu berkomunikasi sama dia lewat media apapun.
  6. Jika perlu, ganti no hp kamu biar dia gabisa hubungi kamu.
  7. Cari orang lain, yang mungkin bisa bikin kamu lupa akan si dia yang dulu


   Kayaknya cuma cara ini yang bisa aku kasih, emang sih bukan cara yang ampuh, Tapi apa salahnya kalau dicoba? (^v^)

Rasa



By : Weby Rahmawati
On : 6 Oktober 2012

Perasaan ini hadir lagi
Sangat tak asing
Berbeda . . .
Saat aku seperti selembar kertas putih
Bagai angin berhembus
Tak pernah aku peduli
Tatapan itu . . .
Tajam dan menusuk
Merasuki rongga dadaku
Pesan itu tak kunjung kubalas
Tapi perlahan sirna
Mengapa?
Mungkin . . .
Karena kau tak disini